jump to navigation

Mendaki Gunung Slamet Via Bambangan 28 Maret 2009

Posted by Nashori Ws in MENDAKI GUNUNG.
trackback

Sebagai gunung tertinggi kedua sepulau Jawa, gunung Slamet pun menjadi dambaan hati para pecinta alam Indonesia. Sebenarnya banyak jalur-jalur pendakian yang bisa dilewati untuk mencapai puncak 3428 mdpl. Seperti jalur Baturaden Banyumas, jalur Guci Tegal dan jalur Bambangan Purbalingga.

Namun untuk menjaga “sopan santun”, sebaiknya mendaki melalui jalur Bambangan Kutabawa. Jalur pendakian melalui pos pendakian Bambangan ini tergolong paling bersahabat untuk pendaki pemula maupun senior.

Transportasi darat ke Bambangan.

Jalur Pantura :

Jakarta / Surabaya transit di Terminal Pemalang. Dari terminal naik bus Pemalang – Purwokerto, turun di pasar Randudongkal. Lalu pindah ke angkudes/bus jurusan Moga,turun di pasar.

Selanjutnya naik colt bak terbuka jurusan Moga – Pulosari – Gombong – Pratin, turun di pasar Pratin.

Alternatif lain, naik bus Pemalang – Purwokerto turun di perempatan pasar Belik (10 km setelah Randudongkal). Kemudian dilanjutkan dengan angkudes jurusan Gombong-Pratin.

Dari pertigaan pasar pratin menuju Bambangan bisa naik ojek atau jalan kaki sekitar 2 Km dengan jalanan yang naik dan meliuk-liuk.

Jalur selatan:

Jakarta / Yogyakarta – Purwokerto. Dari Purwokerto naik bus jurusan Purwokerto – Pemalang, turun di pertigaan Serayu (antara Purbalingga – Bobotsari).

Digang Serayu ini biasanya banyak mobil bak terbuka jurusan Pratin maupun langsung ke Bambangan yang sedang ngetem.

Atau bisa juga dari Purwokerto turun di gerbang obyek wisata Goa Lawa Karangreja (selatan Bobotsari). Dari Karangreja ini naik angkudes ke pasar Pratin. Dari jalur ini kita akan melewati obyek wisata Goa Lawa (kelelawar), yang posisinya disebelah kiri jalan.

Rute pendakian gunung Slamet.

Pos pendakian Bambangan biasanya berpusat di warung makan “Bu Sugeng”. Dari base camp warung ” Bu Sugeng” berjalan naik sedikit ada gedung pendakian dan gerbang Selamat Datang.

Dari base camp sampai bibir hutan  Pos II (Pondok Walang) kita akan melewati ladang pertanian, lapangan, pos payung dan hutan pinus. Pos II sampai Pos III (Pondok Cemara) hutan semakin lebat,jalanan sempit dan mulai terjal.

Dari Pos III sampai ke Pos IV (Pondok Samarantau) akan menjumpai salah satu keunikan dan jadi cirikhas gunung Slamet. Yakni dua pohon besar dengan satu akar yang menyerupai dinding. Pohon ini diyakini sebagai pusar atau pertengahan gunung Slamet.

Di wilayah Pos IV Samarantau, hutan mulai menipis dan sampai di Pos V (Samyang Rangkah), kita sudah keluar dari hutan raya Slamet. Di Pos Samyang Rangkah terdapat pondokan dan sumber mata air. Namun di musim kemarau air ini sulit di peroleh, karena cuma keluar sedikit bahkan kadang-kadang mati. Untuk menuju ke sumber mata air ini pendaki harus turun kebawah menerobos semak belukar dan melewati bebatuan yang sangat licin

Selanjutnya dari Samyang Rangkah – Samyang Jampang (Pos VI) – Samyang Katebonan (Pos VII) – Samyang Kendit (Pos VIII), medan pendakian sudah memasuki batas vegetasi. Hanya semak  belukar dan perdu yang tumbuh di lintasan ini. Tumbuhan bunga adelweis mulai bisa di temui menjelang  Pos IX (Plawangan).

Pos Plawangan merupakan gerbang pendakian ke puncak Slamet. Mulai dari Plawangan ini pendaki mesti extra hati-hati ketika melintasinya. Medanny berupa bebatuan vulkanis yang labil dan mudah longsor dengan kemiringan yang “aduhaii”, sampai-sampai pendaki terkadang harus merangkak untuk menjaga keseimbangan tubuh.

Dari Plawangan, pendaki akan melewati pos Lemah Abang. Disini sangat berbahaya kalau kita sampai melanggar batas-batas lintasan yang berupa patok-patok besi di sisi kiri kanan jalur. Apalagi di lintasan ini sering terjadi angin beliung dan badai. Sukses melintasi jalur ini, puncak 3428 mdpl sudah menanti kedatangan kita dengan “senyuman” indahnya.

Bagi pendaki yang ingin ke kawah Slamet, bisa mengambil jalanan setapak yang turun meliuk sekitar setengah jam.

Sebaiknya mendaki gunung Slamet di mulai pada sore hari (setelah ashar) dengan target istirahat di pos Samyang Rangkah (pondokan). Kemudian melanjutkan pendakian dari pos Samyang Rangkah menuju puncak sekitar jam 04.00 dini hari, sehingga bisa menikmati indahnya matahari terbit di sela-sela Gunung Sindoro Sumbing.

About these ads

Komentar»

No comments yet — be the first.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: