jump to navigation

Jalur Dan Rute Pendakian Ke Gunung Lawu 3265 mdpl 15 Februari 2009

Posted by Nashori Ws in MENDAKI GUNUNG.
trackback

Team KOMA Pekalongan melakukan pendakian ke Gunung Lawu Karanganyar – Magetan pada tahun 2001. Awalnya kOMA Pekalongan berniat mendaki ke Slamet. Tapi karena waktu itu Slamet ditutup karena adanya tragedi tewasnya beberapa mahasiswa dari Yogyakarta, akhirnya KOMA Pekalongan lari ke Lawu.

Koma Pekalongan belum pernah melakukan pendakian dengan jumlah lebih dari lima orang. Biasanya paling mentok empat orang.
Baru waktu ke Lawu inilah personil KOMA mencapai tujuh orang.

Karena waktu itu bertepatan dengan musim penghujan dan badai, KOMA Pekalongan di bekali surat jalan dari pihak kantor Kelurahan Banyurip Ageng untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.

Perjalanan kami awali dari terminal induk Kota Pekalongan dengan naik bus jurusan Terminal Tirtonadi Surakarta. Dari Pekalongan sekitar jam 11.00 siang ,sampai di Tirtonadi Surakarta hari sudah menjelang maghrib.

Kalau perjalanan dari Tirtonadi langsung di sambung ke Tawangmangu, bisa-bisa kami akan kedinginan semalaman di Tawangmangu Karanganyar. Karena angkutan dari Tawangmangu yang ke Cemoro Kandang ( pos pendakian Gunung Lawu dari Jawa Tengah) trayeknya cuma sampai jam 18.00 sore saja. Akhirnya kami memutuskan untuk istirahat dahulu di sebuah Hotel di Kecamatan Palur (Kecamatan yang dekat dengan sungai Bengawan Solo).

Pagi harinya Team KOMA langsung melanjutkan perjalanan dari Palur ke Terminal Tawangmangu Karanganyar. Tawangmangu sangat terkenal dengan obyek wisata Air Terjun Grojokan Sewu. Apalagi di tambah dengan di bangunnya komplek pemakaman keluarga Presiden Soeharto, Astana Giri Bangun yang lokasinya masih satu arah dengan Grojokan Sewu.

Sesampainya di terminal pasar Tawangmangu Koma Pekalongan langsung pindah ke angkutan jurusan Tawangmangu-Cemoro Kandang- Sarangan. Angkutan melewati jalanan yang meliuk-liuk di lereng yang sangat tinggi. Karenanya jalur ini terkenal sebagai jalan raya paling tinggi sepulau Jawa.

Sekitar dua jam di kocok-kocok di angkutan, sampailah KOMA di Pos Pendakian Cemoro Kandang yang posisinya ada di sebelah kiri jalan. Di samping kanan jalan depan pos pendakian berjajar warung-warung makanan.

Pendaftaran dan permintaan KOMA untuk mendaki Lawu ternyata tidak semudah yang di bayangkan. Karena memang cuaca pada waktu itu sangat tidak mendukung untuk melakukan kegiatan pendakian. Tapi setelah lama bernegosiasi, akhirnya KOMA di izinkan juga untuk mendaki Gunung Lawu.

Medan pembukaan dari Cemoro Kandang landai-landai saja sampai di pos Taman Sari Ngisor. Dari Jalur Cemoro Kandang ini para pendaki Gunung Lawu akan menjumpai beberapa pos seperti Taman Sari Nduwur yang dekat dengan retakan kawah.

Terus di jumpai pula pos Jurang Pengarip-Arip yang jalannya sempit,sisi kanan tebing dan sebelah kiri jurang menganga.

Kemudian akan kita temui pula dataran luas yakni Pos Cokro Suryo, disini banyak terdapat batu-batu nisan untuk mengenang para pendaki yang meninggal (tewas) sewaktu melakukan pendakian di Gunung Lawu.

Di gunung Lawu tedapat tiga puncak yang sangat terkenal. Yakni puncak 1 (Hargo Dumilah) dengan ketinggian 3265 mdpl. Puncak satunya lagi yang tak kalah populer,karena banyak menjadi tujuan para peziarah adalah puncak 2 (Hargo Dalem).
Dan terakhir puncak 3 (Hargo Dumiling) yang di percaya sebagai tempat pamoksannya Ki Sabdo Palon,salah satu pengikut Prabu Brawijaya Pamungkas.

Menurut kepercayaan yang banyak berkembang, makam yang ada di puncak Hargo Dalem adalah makam Prabu Brawijaya Pamungkas. Sementara ada juga yang menganggap sebagai makamnya Sunan Lawu.

Pejalanan turun KOMA Pekalongan memilih jalur Cemoro Sewu. Jalur Cemoro Sewu relatif lebih mudah dari pada jalur Cemoro Kandang.

Perjalanan turun lewat jalur Cemoro Sewu ini akan melintasi beberapoa pos. Pos pos yang akan kita jumpai antara lain Sendang Drajat, Sumur Jolotundo, Kawah Gunung Lawu, sampai akhirnya dipos 3 dan di lanjutkan menyusuri jalanan yang berundak-undak dengan bebatuan yang tersusun rapi. Disini kita juga akan melewati jalanan yang kiri kanannya rindang dengan pepohonan Cemara.

Setelah sampai di pos pendakian Cemoro Sewu, team KOMA Pekalongan melapor dan mengucapkan terima kasih serta pamitan kepada para petugas jaga.

Karena sudah terlalu lelah, kami langsung naik angkutan Sarangan – Tawangmangu. Dari Tawangmangu di sambung ke Teminal Tirtonadi. Dari Terminal induk Surakarta ini Team KOMA Pekalongan langsung pulang ke kampung halaman.

Salam untuk Copet, Rudi Wowok, Mahmudi Temon, Amat Cebong, dan Bang Mandor di Banyurip Ageng Pekalongan Selatan yang pernah bersama merasakan dinginnya kabut Lawu.

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: