jump to navigation

Pendakian Ke Gunung Semeru Jawa Timur 15 Februari 2009

Posted by Nashori Ws in MENDAKI GUNUNG.
trackback

Pendakianku ke Semeru Jawa Timur pada tahun 2001 tidak lagi membawa panji KOMA Pekalongan. Pendakian ini adalah pendakian pelarianku setelah aku “terbuang dan terusir” dari kampung kelahiranku di Kelurahan Banyurip Ageng Pekalongan Selatan. Aku terlempar dari Banyurip Ageng dengan sebab yang sampai saat ini masih menjadi tanda tanya yang belum terjawabkan. Bahkan oleh diriku sendiri.

Begitu badai besar menerjang semua sendi kehidupanku di Banyurip Ageng, aku langsung lari ke gunung. Sebagaimana kecintaanku pada pendakian, maka setiap datang suatu permasalahan aku pasti ke gunung untuk mencari pencerahan. Di gununglah aku bisa tenang berinstrokpeksi dan banyak menggembleng batinku.

Aku mengawali perjalanan dari Gunung Slamet di Purbalingga, kemudian melanjutkan ke gGunung Sindoro Temanggung dan istirahat setengah bulan di Garung Butuh Kalikajar sembari mempelajari masalah tembakau. Di kaki Gunung Sumbing Wonosobo ini pula aku belajar tekhnik SAR di pegunungan. Aku belajar banyak dengan Team SAR Pajeero dan Stickpala Wonosobo.

Setelah kurasa cukup di Sumbing dan kebetulan ada teman dari Sidoarjo yang mengajakku ke Semeru, akupun tak banyak berpikir langsung mengiyakan untuk melakukan pendakian ke Gunung tertinggi sepulau Jawa, Semeru yang mempunyai puncak sensasional Mahameru.

Sesampainya di Sidoarjo aku langsung naik angkutan yang menuju ke Kota “Apel” Malang. Di Kota Malang aku bertemu dengan teman sesama pendaki yang sebelumnya sudah kenalan waktu aku mendaki gunung Slamet. Lewat temanku yang namanya Tembol inilah aku di antar mendaki Gunung Semeru.

Dari Kota Malang kami meluncur ke Kecamatan Tumpang. Dari Tumpang kami naik angkutan Jeep menuju ke desa Ranu Pani yang merupakan desa terakhir untuk menuju gunung Semeru.

Pendaftaran dan permintaan kami untuk mendaki mendaki Semerru berjalan lancar di desa Ranupani ini. Dan setelah semua beres kamipun mulai pendakian ke Semeru pada malam hari. Dari Malang awalnya kami cuma bertiga, namun dapat tambahan personil dari anak-anak Tuban 3 orang. Sehingga jumlah team kami saat itu adaa 6 orang.

Setelah bejalan kurang lebih 13 kilometer dari pos pendaftaran Ranupani, kami berenam sampai di pos Ranu Kumbolo (2400 mdpl). Pos ini terkenal dengan telaganya yang airnya melimpah dan jernih. Bahkan di telaga Ranu Kumbolo ini kami sempat mencari ikan untuk santap malam. Ranu Kumbolo menjadi tempat peristirahatan pertama. Kami buka tenda di sini untuk menyambut matahari terbit esok pagi.

Puas menyaksikan matahari terbit dari celah-celah perbukitan di Ranu Kumbolo, kamipun melanjutkan perjalanan lagi. Perjalanan sengaja di bikin santai karena di antara kami berenam memang tak ada acara lain yang mesti di kerjakan di tempat tinggal masing-masing.

Tanpa terasa perjalanan kami sudah sampai di ketinggian 2700 mdpl, yakni di pos Kali Mati. Sekitar satu jam kemudian kami sampai di bawah Arcopodo pas hari menjelang sore. Akhirnya kita memutuskan untuk istirahat dan buka tenda lagi. Karena perjalan esok adalah treking terakhir, kamipun berusaha untuk istirahat semaksimal mungkin di Arcopodo ini.

Untung walaupun kami nyenyak tertidur, satupun dari kami tidak ada yang terlambat bagun. Dengan menahan rasa dingin yang seperti menusuk ketulang sum-sum, kami berenam mulai bergerak lagi untuk menggapai puncak Mahameru. Tebalnya kabut kala itu tak menyurutkan semangat kami. Dan tidak cuma rombongan kami yang menerobos tebalnya kabut di Arcopodo, ada sekitar 5 team lainnya yang sama-sama melakukan hal ini.

Ketika kami mulai menapaki jalanan pasir yang sangat merepotkan langkah kaki kami, tebalnya kabut sudah mulai berkurang. Berganti dngan sinar mentari pagi yang cukup menyegarkan badan dan fikiran.

Alhamdulillah, setelah bersusah payah melintasi medan pasir yang cukup terjal, kami berenam dan team-team lainnya sampailah di puncak tertinggi di pulau Jawa. Puncak Mahameru terhampar indah didepan penglihatan kami semua.

Di puncak Mahameru ini terdapat kawah yang setiap seperempat jam-nya mengeluarkan asap dan letusan yang di iringi dengan semburan batuan vulkanis. Inilah kawa ” Jonggring Saloko “ di ketinggian 3676 mdpl.

Untuk mengenang perjalananku dengan KOMA Pekalongan, aku tuliskan nama-nama personil KOMA yang pernah ikut mendaki bersamaku di gunung-gunung di pulau Jawa.

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: