jump to navigation

Pendakian Ke Gunung Sindoro 16 Februari 2009

Posted by Nashori Ws in MENDAKI GUNUNG.
trackback

Gunung Sindoro masuk dalam wilayah administratif Kabupaten Temanggung Jawa Tengah. Merupakan rangkaian bagi pendaki yang senang melakukan pendakian “Triple S” untuk gunung di daerah Jawa Tengah, yakni Slamet Sindoro Sumbing.

Gunung dengan ketinggian kurang lebih 3150 mdpl ini gampang di jangkau dengan kendaraan pribadi maupun angkutan umum. Lokasinya sangat strategis, yakni di jalur Wonosobo – Temanggung. Dulu sewaktu KOMA Pekalongan melakukan pendakian ke gunung Sindoro ini mengambil trayek dari terminal Induk Kota Pekalongan dengan bus jurusan Sukorejo. Dari Sukorejo di sambung ke Parakan kemudian naik bus lagi jurusan Wonosobo.

Bisa juga dari Semarang dengan bus jurusan Bawen-Temanggung-Wonosobo-Purwokerto. Atau kalau dari Magelang langsung ke jurusan Wonosobo juga. Sedangkan kalau dari Purwokerto bisa menggunakan kendaraan bus Jurusan Purwokerto – wonosobo – Temanggung – Bawen.

Dari semua jurusan manapun kita berangkat, setelah dari Wonosobo ke Temanggung atau sebaliknya dari Temanggung ke Wonosobo kita turun di Kledung. Di jalur ini tedapat dua pos pendakian yakni Garung ( pos ke Sumbing), dan Kledung (pos ke Sindoro). Jarak antara kedua pos pendakian ini sekitar 500 meter dengan di tandai adanya gapura perbatasan Kabupaten Temanggung dengan Kabupaten Wonosobo.

Setelah turun di Gang Kledung, KOMA Pekalongan langsung masuk ke pos pendakian yang jaraknya sekitar 500 meter dari jalan raya. Semua persiapan dan perbekalan logistik mesti kita siapkan penuh di pos pendakian, terutama air. Karena sepanjang jalur pendakian gunung Sindoro tak ada sumber mata air yang bisa di temui. Dan usahakan pula untuk mendaki gunung Sindoro hanya pada waktu malam hari saja, sebab kalau siang hari sengatan matahari akan langsung menyerang punggung kita.

Setelah semua perlengkapan beres, KOMA Pekalongan mengawali perjalanan mendaki dari pos Kledung menuju Pos Sibajing yang jalannya sangat landai. Bahkan secara bergurau jalur ini bisa di lewati pakai becak. Karenanya untuk yang malas atau nggak mau capek bisa memanfaatkan jasa ojek yang banyak ngetem di sekitar pos Kledung. Jalanan menuju pos Sibajing ini memang membosankan bagi para pendaki. Namun justru di sinilah ujian kesabaran bagi pendaki. Anggap saja sebagai pemanasan untuk mengendorkan otot-otot sebelum mulai pendakian yang sebenarnya.

Di tengah perjalanan dari pos Kledung ke Pos Sibajing, kita akan menjumpai Watu Gajah yang merupakan gerbang pendakian yang sebenarnya. Karena setelah melewati Watu Gajah, medan mulai agak menanjak sedikit demi sedikit walaupun masih di daerah ladang pertanian. Jalanpun mulai berliku-liku dan naik turun sampai di Pos berikutnya yaitu pos Cawang (Gowok).

Selepas dari Pos Gowok inilah baru akan terasa medan sesungguhnya dari pendakian gunung Sindoro. Medan-medan terjal menjadi santapan empuk bagi pendaki. Hutan raya Sindoro yang di dominasi dengan pohon lamtoro sedikit membantu untuk berpegangan manakala menemui tanjakan-tanjakan terjal. Perlu juga di jadikan perhatian, perjalanan dari pos Gowok ke atas akan menemui banyak puncak-puncak bayangan. Terlebih kalau pendakian di jalur ini kita lalaui pada siang hari atau hari sudah terang, semua puncak bayangan itu bisa mengecoh semangat kita.

Team KOMA Pekalongan yang waktu itu terdiri dari tujuh personil, berkali-kali bersorak kegirangan. Dalam pikiran kami pendakian Sindoro sudah sukses mencapai puncak. Tidak tahunya ternyata hanya puncak bayangan. Bahkan berkali- kali kejadian ini kami alami sampai-sampai nyaris membuat kami putusasa. Ternyata yang kami kira sebagai puncak Sindoro adalah Pos Seroto. Perjalanan dari pos Gowok ke Pos Seroto bisa di tempuh sekitar 2 jam.

Di daerah sekitar pos Seroto banyak bebatuan di sela-sela hutan lamtoro. Medan Pos Seroto ini terbilang cukup merepotkan juga, karena waktu itu kami mendaki bertepatan dengan musim penghujan. Jalanan banyak yang rusak dan menjadi licin.

Di ambang keputusasaan karena sering tertipu oleh puncak-puncak bayangan, sampailah kami di gerbang adelweis yang sangat mempesona pandangan kami. Padang adelweis Gunung Sindoro memang beda dengan gunung – gunung lain. Padang adelweis di Gunung Sindoro ibarat Helm. Lebat dan nyaris tak ada tanaman lain yang menyelinap di sekitar padang adelweis ini.

Jalur pendakian di padang adelweis berupa bebatuan vulkanik yang berwarna kemerahan. Kondisi jalanan lumayan terjal dengan tumpukan bebatuan yang labil dan mudah longsor. Kurang lebih setengah jam kemudian barulah puncak Gunung Sindoro yang sebenarnya kami capai.

Puncak Sindoro 3150 mdpl menyajikan panorama alam yang sangat menawan. D dalam kawah Sindoro yang sudah tidak aktif lagi terdapat dua telaga yang airnya berwarna jernih. Sebelah kanan airnya kelihatan kehijauan dan yang sebelah kiri putih jernih. Telaga ini terbentuk dari kawah yang sudah mati. Dari air telaga ini biasanya para pendaki mengisi kantong-kantong air untuk perbekalan turun.

Namun telaga ini hanya bisa kita temui kalau musim penghujan saja. Karena sewaktu saya melakukan pendakian berikutnya di musim kemarau, genangan air ini sama sekali tidak ada.

Pesona lain dari puncak Sindoro adalah Alun-alun Segoro Banjaran dan Alun-alun Segoro Wedi. Kedua alun-alun ini bisa di lewati kalau kita mau berkeliling di puncak Sindoro. Pemandangan lainnya kalau kita mau keliling di puncak, dari puncak bagian sisi barat akan kita lihat puncak gunung Slamet yang menyembul dari sela-sela awan. Menengok kebawah akan kita lihat indahnya pegunungan Dieng dengan telaga Warna dan telaga Pengilon yang airnya berkilauan kena terpa sinar matahari.

Jalur Alternatif Ke Puncak Sindoro

Selain jalur Kledung yang sangat populer dan mudah di jangkau, puncak Gunung Sindoro juga bisa di capai dari jalur lain, yakni Jalur Sigedang Kecamatan Kejajar Wonosobo.

Jalur Sigedang jarang di gunakan oleh para pendaki di karenakan jalur ini medannya terlalu terjal dengan sajian jurang – jurang yang sangat curam. Untuk mencapai ke Pos Sigedang bisa menggunakan bus Wonosobo – Rejosari kurang lebih 20 km. Setelah di Rejosari perjalanan di lanjutkan dengan angkudes Rejosari – Sigedang.

Dari Pos Sigedang pendakian di awali dengan melintasi perkebunan teh Tambi. Di sekitar perkebunan teh ini terdapat tiga shelter yang bisa di manfaatkan untuk istirahat. Selepas dari perkebunan teh Tambi, perjalanan selanjutnya adalah memasuki hutan raya Sindoro dengan medan yang sangat terjal.

Sekitar dua jam di hutan raya Sindoro begitu keluar kita akan di hadapkan pada padang ilalang yang sangat luas dengan jalanan berkerikil dan medan berliku-liku. Sukses melintasi padang rumput ilalang, pucak Sindoro langsung menyambut kedatangan kita.

Akan tetapi untuk pendaki pemula jalur Sigedang ini sangat tidak di anjurkan.

Team KOMA Pekalongan Nashori,Copet,Rudy,Mahmudi,Usni,Bang Mandor dan Guntoro.

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: