jump to navigation

Misteri Pendakian Di Gunung Lawu 3 Maret 2009

Posted by Nashori Ws in MENDAKI GUNUNG.
trackback

Pendakian KOMA Pekalongan pertama ke gunung Lawu Pebatasan Jawa Tengah Jawa Timur banyak meninggalkan kenangan yang sangat berharga dan bermanfaat. Salah satunya adalah di masalah pengobatan herbal.

Waktu itu Team Koma Pekalongan terdiri dari tujuh personil yang setengahnya adalah pendaki pemula. Pendakian yang di mulai sekitar jam 10 pagi dari jalur Cemoro Kandang memang sangat melelahkan dan cukup menguras tenaga. Padahal jalur ini tidak terlalu terjal treknya. Bahkan termasuk jalur yang landai. Tapi justru dari kelandaian medan pendakian inilah yang menyebabkan perjalanan jadi lama, karena rutenya terlalu berliku-liku.

Menjelang pos Taman Sari Nduwur, salah satu anggota team Koma ada yang mengalami cedera kaki karena jatuh dan keseleo. Namun mengingat perjalanan ke puncak masih sangat jauh, kami tak terlalu menghiraukan masalah ini. Akibatnya karena terlalu di paksakan malah berakibat tambah fatal. Salah satu personil tadi malah mengalami kramp kaki. Bahkan bukan cuma satu orang saja yang mengalami hal serupa. Dua orang sekaligus mengalami gangguan kaki saat itu.

Akhirnya kami memutuskan untuk istirahat sejenak untuk mengobati anggota team Koma yang cedera. Segala jalan yang saya mampu sudah saya coba untuk menyembuhkan kram kaki anggota kami, tapi hasilnya malah tambah parah. Di sela-sela kebingungan, saya teringat satu nasehat dari temanku dari Team SAR Gunung Sumbing Wonosobo (Pajeero) sewaktu kami bertemu di gunung Ciremai, untuk memanfaatkan rumput alang-alang untuk memjadikan kaki kuat sewaktu mendaki gunung.

Segera kami cari rumput alang-alang yang banyak tumbuh di sekitar kami. Alhamdulillah, begitu kaki yang kram di ikat dengan rumput alang-alang, sepontan sembuh dan normal kembali untuk berjalan. Bahkan bisa untuk berlari-lari. Melihat khasiat alang-alang ini semua personil tiru-tiruan mengikat kakinya dengan rumput alang-alang. Perjalanan mendakipun kembali lancar hingga kami buka tenda di bawah Pos Jurang pangarip-arip menjelang waktu mahgrib tiba.

Setelah di rasa cukup istirahat, jam 11 malam kami melanjutkan pendakian. Dinginnya cuaca  dan pekatnya kabut waktu itu tak menyurutkan tekad kami untuk secepatnya mencapai puncak Lawu. Kembali kami berjalan beriringan dan sangat hati-hati karena cuaca yang kurang bersahabat. Apalagi medan sudah mulai agak terjal dan jalur pendakian sangat sempit.

Menjelang dini hari kami sampai di jalanan yang sangat sempit. Sebelah kiri kami jurang menganga sangat curam dan sebelah kanan tebing yang tinggi. Kami baru ingat kalau ini yang di namakan dengan istilah Pos Jurang Pengarip-arip. Tak banyak yang buka suara di antara kami ketika melintasi jalan ini. Bahkan entah pengaruh apa, kami merasakan ada ketegangan. Sampai akhirnya aku yang selalu berjalan di bagian paling belakang berteriak ” Subhanalloh..!”

Entah dari mana datangnya, tiba-tiba seekor babi hutan sebesar kambing berlari memotong perjalanan kami. Anehnya bukan temanku yang paling depan yang melihatnya,tapi malah aku yang paling belakang yang pertama melihatnya. Semua berdiri bengong sembari saling berpegangan.

Dalam pikiran kami, mustahil ada babi dari bawah jurang yang curam. Lebih-lebih babi itu lari dan menghilangnya entah kemana, karena sebelah kanan kami adalah tebing yang tinggi. Masih dalam kekalutan pikiran dan kelelahan pisik, tanpa di komando kami lari tunggang langgang tak menghiraukan gelap dan sulitnya medan. Yang ada dalam benak kami adalah secepatnya menjauh dari tempat yang mengerikan tadi.

Dengan nafas yang terengah-engah dan dada kembang kempis kamipun sampai di Pos Cokro Suryo. Di pos ini kami menenangkan batin dan pikiran kami. Ketika saya jam tangan, jarum sudah menunjukkan pukul 3 dini hari. Dan tanpa banyak buang waktu kami segera melanjutkan perjalan ke puncak.

Menjelang subuh akhirnya Team KOMA Pekalongan berhasil menggapai puncak Lawu. Indahnya matahari terbit sedikit menghibur batin kami. Kejadian di jurang pengarip-arip benar-benar banyak menyita tenaga lahir maupun batin kami.

Untuk melupakan kejadian di jurang pengarip-arip semalam, kami turun mengambil jalur Cemoro Sewu Sarangan Magetan Jawa Timur. Dan sampai di Pekalongan tanpa kurang suatu apapun.

Salam kami untuk M.Furqon (Tebet), Hendra dan Anggi (Mampang Prapatan).

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: