jump to navigation

Misteri Di Gunung Ciremai 20 April 2009

Posted by Nashori Ws in MENDAKI GUNUNG.
trackback

Saya mendaki Gunung Ciremai sekitar tahun 2000-an dan mengambil jalur dari Pos Pendakian Linggar Jati.

Entah apakah semua pendaki Gunung Ciremai juga mengalami hal serupa dengan yang kami alami atau tidak ?

Ceritanya begini, setelah semalaman ngecamp di Pos Ceublokan, paginya sekitar jam 8 kami melanjutkan pendakian lagi. Baru berjalan beberapa meter meninggalkan tempat kami berkemah, saya merasa ada tawon yang mengikuti disekitar kepalaku. Bunyinya seperti tawon madu yang kecil.,ngeeng..nguung..ngeeeng. Semakin lama terasa agak menggangu juga tawon ini, ku kibaskan tangan untuk mengusir tawon tadi, tapi ternyata tak ada apa-apa di sekelilingku.

Ternyata semua temanku (kami berempat) juga merasakan hal yang sama. Yang aneh, masing-masing dari kami seperti diikuti cuma satu orang satu tawon.

Lebih aneh lagi kalau kami berhenti untuk istirahat, suara-suara tawon yang sepanjang perjalanan selalu berdengung mengikuti setiap langkah kami tidak ada sama sekali. Dan yang muncul di sekitar kami adalah burung jalak abu-abu yang jinak.

Kejadian ini berulang kali dan terus menerus menemani pendakian kami. Setiap kali kami berjalan selalu dengungan suara tawon yang muncul, dan kalau berhenti berganti dengan munculnya burung-burung jalak.

Terakhir kami istirahat di Puncak Pengasinan, saat kami rebahan sehabis sholat ashar, burung-burung jalak turun menghampiri. Bahkan ada yang nangkring dipundakku, ada yang turun di badan teman-temanku yang sedang tidur.

Menjelang jam 4 sore, kami bergerak lagi untuk menyelesaikan treking terakhir menuju puncak 1. Tanpa kami sadari, ternyata suara tawon yang seharian mengawal perjalanan kami ternyata sudah tidak kedengaran lagi. Burung-burung jalak juga ikut-ikutan menghilang entah kemana.
Kami yang dari pagi hari mendaki selalu di temani suara tawon dan burung jalak, begitu mahluq-mahluq ini menjauh, ada rasa kesepian di hati kami. Kami memang satu-satunya team yang mendaki Ciremai saat itu. Sehingga sepanjang perjalanan dari malam sampai siang, tak satupun kami menjumpai pendaki lainnya.

Tiba-tiba, gemuruh halilintar mengagetkan lamunan kami semua. Posisi kami waktu itu di treking menuju puncak 1 Ciremai. Semua terjadi diluar perhitungan kami, cuaca yang awalnya cerah seketika berubah gelap mengerikan. Hujan badai dan halilintar menerjang silih berganti.

Puncaknya kami berempat terjebak badai dan nyaris tewas kedinginan di puncak 1 Gunung Ciremai.

Tapi Alhamdulillah.. Allahu Akbar.

Komentar»

1. ubaid - 29 Oktober 2009

hmmmm……,,,, di benak q masih melekat kenangan itu kang, kholiq (copet) juga rudi, msh ingat ketika nafas qta tersenggal2 krn mountsickness atau bahkan kondisi drop, obat yg tersisa cuma kuku bima..
hhhhmmmm, rasanya baru kemarin.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: